AVISENA merupakan sekolah yang cukup legendaris. Selain mempunyai banyak
prestasi, hingga sekarang sekolah ini meliburkan siswanya pada hari
Jum’at, tidak Minggu seperti sekolah-sekolah lainnya. Dari sini
sebenarnya dapat kita nilai bahwa sekolah ini sangat cukup berani untuk
memilih hari libur, apakah Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah tidak takut
kehilangan siswanya? Ternyata pertanyaan itu hanya berhenti sebagai
pertanyaan, mereka mempunyai pertimbangan (spirit) lebih matang daripada
sekolah-sekolah yang lain.
Awal mula berdirinya lembaga pendidikan
AVISENA tanpa gedung sekolah, sekitar awal tahun 50-an. Sebelum muncul
nama AVISENA, sekolah ini bernama madrasah Mu’allimin-Mu’allimat. Dalam
perjalanan dari tahun ke tahun, madrasah Mu’allimin-Mu’allimat karena
merupakan satu-satu sekolah madrasah di Kecamatan Jabon (dan
sekitarnya). Mengalami kemajuan yang cukup pesat, hingga ruang kelas
yang tersedia tidak dapat mencukupi banyaknya jumlah siswa yang belajar.
Karena semakin banyaknya siswa dan kapasilitas lokal kelas yang sangat
minim, walhasil dari sekian siswa yang ada sebagian besar mengikuti
pelajaran di rumah-rumah penduduk (Desa Kedungcangkring). Tidak lain
yang menjadi motivasi masyarakat Kedungcangkring adalah untuk mewujudkan
kualitas pendidikan generasi muslim di lingkungan Desa Kedungcangkring
dan sekitarnya dalam menghadapi gempuran peradaban yang semakin
memprihatikan.
Pada awal pembangunan gedung sekolah (kelas) banyak
masyarakat yang memberikan sumbangannya dengan berbagai macam bentuk
material, antara lain, batu bata, gentheng, pasir, dll, yang dikumpulkan
di depan masjid An Nur. Dua tahun kemudian, dibentuklah panitia
pelaksana pembangunan gedung sekolah yang dipimpin oleh KH Abdul Latief,
dan KH Siroj Kholil - Kiai Hayyun sebagai penasehat.
Selanjutnya,
pada awal tahun 60-an, proses pembangunan gedung sekolah cukup terbantu
oleh koperasi pengrajin batik atau yang disebut dengan BKBI (Badan
Koperasi Batik Indonesia). Melalui dorongan yang dilakukan oleh asosiasi
pengrajin batik Desa Kedungcangkring, akhirnya BKBI memberikan bantuan
dana yang cukup guna mencukupi pembiayaan bangunan gedung sekolah.
Meskipun
masih banyak kelemahan dan kekuarangan, proses pembanguna gedung
sekolah AVISENA mendatangkan arsitek dari Singosari, Malang, KH Abdul
Aziz. Mulanya gedung sekolah dibangun di atas tanah yang dibeli oleh
warga Desa Kedungcangkring. Lokasinya di sebelah selatan sungai Porong
(sebelah dam Desa Kedungcangkring). Namun, proses pembangunan belum
kelar 100% pengurus mau tidak mau harus membongkar bangunan sekolah
karena berbenturan dengan proyek pelengsengan kali porong oleh proyek
dari dinas pengairan Pemprov Jatim. Setelah melakukan negosasi panjang
tentang ganti rugi tanah dan bangunan, bangunan gedung sekolah AVISENA
diletakkan di sebelah timur Desa Kedungcangkring (lokasi sekarang)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar