1. K H.MUHAIMIN ARUQOT
KH. Muhaimin A.A lahir di kedung cangkring
putra kesebelas KH. A. Aruqot tepatnya tahun 1936. Sejak dini beliau sudah
mengenal lingkungan islam. Karena ayah beliau yakni KH. A. Aruqot merupakan
ulama' kharismatik yang terkenal kealimannya terutama pada saat beliau menjadi
pendiri ponpes Roudlotul Muta'allimin.
Kesehariannya
beliau nyantri pada ayahnya sendiri yang mengkaji kitab Irsyad al- Ibad dan
Fathul Qorib. Mengenai bidang akademik beliau memiliki kesan yang terkenang
sampai saat ini demi menyelesaikan studinya tingkat madrasah. Beliau rela empat
kali berpindah tempat belajar, karena memang fasilitas belajar pada saat itu
sangat minim.
Setelah
cukup dewasa beliau berkeinginan untuk menambah wawasan agamanya. Tepatnya pada
tahun 1964 beliau nyantri ke Kali Wungu Semarang bersama kepnakannya KH.
Mawahibus Somad dan temannya Mudzakkir. Pada saat mondok beliau termasuk santri
yang qona'ah dan apa adanya yang mempunyai himmah yang tinggi meski bekal
pas-pasan beliau tetap pada tekadnya
yaitu THOLABUL 'ILMI. Dua
setengah tahun beliau di Kali Wungu akhirnya beliau kembali ke kampung
halamannya berbekal suara yang bagus. Beliau mengamalkannya menjadi guru
qiro'ah di berbagai tempat, diantaranya : Kali Dawir, Kali Tengah, Porong, dan
lain-lain.dengan pengalaman mengajar akhirnya tidak sedikit kalangan masyarakat
yang nyantri di PPRMM.
Pada tahun 1967 bulan januari beliau melepas
masa lajangnya menikah dengan
"Mahnunah" gadis berasal dari Kedung Cangkring. Waktu akad
nikah beliau dihadiri dan direstui oleh KH. Siroj Kholil, KH. Abdul Latif, dan
Mbah KH. Ali Mas'ud Pagerwojo Waliyulloh. Saat ini beliau merupakan tokoh
masyarakat yang disegani. Beliau juga menjadi ketua Dewan Syuro NU Ranting
Kedung Cangkring yang selalu aktif dalam kegiatan-kegitan keagamaan bersama
warga Nahdliyin.
2. K H
ASIF ARUQOT
Pada Tahun 1939
saat penjajah masih menindas bangsa Indonesia. Lahir seorang bayi yang bernama
Asif. Beliau dikalangan keluarga yang taat beragama dari pasangan KH Ahmad
Aruqot dan Hj. Aminah. Suasana gembira mewarnai wajah orang-orang yang
menyaksikan lahirnya sang bayi di alam fana ini yang kelak menjadi figur
panutan umat.
Sebagai
Ulama’ pembawa panji bendera risalah Suci Rosulullah, sang ayah KH. Ahmad
Aruqot berusaha dengan rasa ikhlas mendidik putra putrinya dengan harapan
supaya nanti menjadi anak yang berbakti serta menjadi penerus perjuangan nya
yang taat beragama. Begitu juga kepada A. Asif putranya.
Menurut
Shohibul Hikayat, Al-Mukarrom adalah seorang yang cerdas di dalam segala
bidang terutama di dalam menerima
pelajaran agama dari ayahnya sendiri. Tapi hidup di zaman panjajahan memang
penuh cobaan bagi A. Asif, bahkan di suatu hari keluarga Beliau serta warga
Kedungcangkring mau tidak mau harus mengungsi ke kota Bangil demi menghindari
desingan dan serpihan peluru. Itupun harus ditempuh dengan jalan kaki. Beliau
sekeluarga tinggal disini dengan segala kekurangan selama ±1 bulan. Dari
peristiwa inilah A. Asif terlatih untuk bersikap sabar didalam menghadapi
musibah.
Setelah
Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaanya, semuanya berangsur-angsur
membaik dalam segi keamanan dan ekonominya sehingga segala rutinitas apapun
akan berjalan lurus dengan sedikit hambatan.
Di usia
menginjak dewasa (baligh) Beliau membuka lembaran baru. Rasa haus akan ilmu
Agama di dada Beliaulah telah mengantarkan nyantri ke beberapa Pondok. Bahkan
menurut riwayat, Beliau telah mendalami Ilmu di Pesantren selama ±16 tahun.
Diantaranya adalah sampai mondok di Ploso selam 6 tahun mulai tahun 1960 sampai
1966 yang pada waktu itu Ploso masih diasuh oleh KH Jazuli Usman.
Pulang
dari pondok A. Asif membantu ayahnya dalam menmgemban tugas mengajar dan
memantau jalannya pondok Beliau juga pernah mengajar di MINU + Mu’allimin
(cikal bakal Avisena).
Sampai
tahun 1969 Beliau melangsungkan akad nikah dengan putri seorang Kyai dari
Mojosari yang bernama “Aliyah” hingga saat ini dikaruniai 7 anak 4 putra dan 3
putri.
Di
masyarakat, selain terkenal sebagai Da’i, Kyai yang sabar dan selalu Qona’ah
ini mahir dalam memukul rebana, bahkan Beliau pernah menjabat sebagai ketua
ISHARI Kabupaten Sidoarjo.
Semua
ini hanya Allah yang mengatur, karena semua itu milik-Nya, sehingga pada tahun
2002 hari Rabu tepatnya tanggal 24 April Beliau kembali kehadirat Allah SWT.
Seluruh santri dan warga khususnya Kedungcangkring sangat merasa kehilangan
sosok Kyai yang dermawan terhadap fakir miskin dan juga baik hati. Kita semua
hanya bisa bedo’a semoga Allah menerima semua amal baiknya dan memberi ampun
segala kesalahannya. Amin.
3. K H. MUHARROR HAYYUN
KH. Muharror Hayyun lahir di Kedung
Cangkring pada tanggal 17 april 1948. Sebagaimana umumnya pemangku ponpes,
sejak dini putra-putrinya di didik secara islami dalam lingkungan pondok.
Di
sela-sela pendidikan formalnya, lulusan D3 IAIN ini menyempatkan lawatannya ke
beberapa pondok diantaranya :
1.
Ponpes Sidogiri (1961-1962) yang di asuh oleh KH. Kholil,
2.
Ponpes Kali Wungu (1963) yang di asuh oleh KH. Rukhiyat,
3.
Ponpes Kudus (1963-1964) yang di asuh oleh KH. Arwani,
4.
Ponpes al-Falah Ploso (1964-1967) yang di asuh oleh KH. Jazuli Usman.
Sepulang dari Pondok
berguru langsung pada ayahnya sendiri untuk mengkaji beberapa kitab salaf atau
klasik seperti : Tafsir Khozin, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Jalalain, dan
lain-lain hingga KH. Hayyun wafat.
Dengan ilmu yang pernah beliau peroleh dari PGAN
(Pendidikan Guru Agama NEGERI), beliau mengajar MI Mojosari (1967-1970), MTS dan MA Mojosari. Beliau juga
pernah di suruh KH. Bahruddin, pengasuh Ponpes Darut Taqwa Sengon, untuk
mengajar kitab Ihya' Ulumuddin mulai tahun 1987-1988. Di Ponpes Roudlotul
Muta'allimin-mat pun pada umur 19 tahun, beliau sudah mengajar di sekolah
Madrasah Diniyah Salafiyah (cikal bakal MDS ar-Riyadh).
Saat ini beliau memimpin KBIH ar-Roudloh yang di dirikan
pada tahun 2000, yang bermula dari permintaan para jama'ah pengajian rutin ahad
pagi. Walaupun baru saja berdiri, yayasan ini dapat di anggap sukses membimbing
dan mengantarkan para jama'ah haji Indonesia. Semoga beliau selalu mendapatkan
rahmat dan kekuatan dari Allah SWT agar dapat selalu mendidik kita dan mengajar
serta mensyi'arkan islam pada masyarakat luas, Amin.
4. K H. MAWAHIBUS SHOMAD HAYYUN
Putra ke 4 (empat)
dari K.H Hayyun dan Nyai Musannadah, K.H Mawahibus Shomad dilahirkan, tepatnya
pada tahun 1950.
Sebagai penerus
kholifah beliau telah menanamkan jiwa kepemimpinannya, dengan wujud mendirikan
sebuah pondok pesantren anak-anak yaitu pondok pesantren DARUSSALAM , yang mana
pondok tersebut didirikan pada tahun 1984.
Didalam perjalanan
hidupnya, sejak kecil beliau sudah disugui dan dibekali ilmu agama oleh
ayahnya. Sehingga dengan ilmu tersebut K.H Mawahibus Shomad dapat melangkah dan
menempuh masa-masa hidupnya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Tidak cukup sekedar
sampai disitu, K.H Mawahibus Shomad juga merintis ilmunya diberbagai pondok
pesantren. Demi mencapai apa yang telah dicita-citakan, K.H Mawahibus Shomad
mulai melangkah dari beliau Syech Masduqi sebagai gurunya di pondok pesantren
Lasem selama 7 tahun. Setelah menempuh 7 tahun dipondok pesantren Lasem, beliau
melanjutkan perjalanan hidupnya dengan tetap mencari segudang ilmunya dipondok
pesantren Kali Wungu selama 3 tahun, yang pada saat itu abah dari Syech Arwani
sebagai guru beliau.
Sepulangnya dari
pondok pesantren, beliau tidak menepikan cita-citanya. Akan tetapi, dengan
ketekunannya beliau masih menggalih beberapa ilmu pada ayahnya sendiri yaitu
K.H Hayyun.
Setelah mencapai
usia 17 tahun, beliau menikah dengan putri yanf berusia 15 tahun, beliau
bernama Umi Kulsum. Sehingga dari perjalanan cinta kasihnya, beliau dikarunia 5
putra yang diantaranya:
1.
Zahro
2.
Zainur
Ridlo
3.
Zulma
4.
Atho'illah
5.
Zumrho
K.H Mawahibus Shomad bukanlah figur yang kaya dengan harta
dan ilmu saja. Melainkan beliau juga kaya akan istri. Dengan keadilan dan
kebijaksanaan beliau, beliau mempunyai 17 istri, dan 27 putra. Namun dari ke 17
istrinya yang tidak dicerai hanya 4. Yaitu:
1.
Umi Kulsum > dengan putra 5
2.
Ibu
Dewik > putranya hanya 2 ( Makin & Rosyid )
3.
Ibu
Ulfa > putranya 3
4.
Istri yang
ke empat tidak mempunyai seorang putra.
Akan tetapi....... didalam
kehidupan yang hanya sementara ini, kehidupan yang tidak kekal adanya, pastilah
apa yang bukan kepunyaan kita dan kepunyaan orang lain hakikatnya akan kembali
kepada Alloh SWT. Karena semua yang ada dilangit dan dibumi adalah semata-mata
kepunyaan Alloh SWT. Pada tanggal 12- Jumadil Awal-1997, K.H Mawahibus Shomad
telah kembali keharibaan Alloh SWT. انا لله وانا اليه راجعون . dengan ini kami hanya bisa berharap dan berdo'a semoga apa yang menjadi
amal kebaikkannya dapat diterima disisi Alloh SWT. Amien.
5. K
H. MAHFUDZ HAYYUN
KH. Mahfudz Hayyun di lahirkan pada tahun
1954, beliau adalah salah satu dari putra KH. Hayyun dengan ibunda Nyai
Musannadah yang ke-lima
Jikalau
kita melihat secara sepintas mungkin sedikit kurang percaya dengan pribadi yang
beliau miliki sampai saat ini sebab dengan kealiman yang beliau miliki yang
sudah bisa kita rasakan bersama ternyata banyak beliau gapai dari kediaman
sendiri sebab dalam catatan sejarah al-Mukarrom dapat di katakan tidak pernah
mondok, hal itu karena kepergian beliau untuk menunutut ilmu ke negeri lain
Waqila Kali Wungu Jateng, Ploso Kediri, Petuk Kediri hanyalah di tempuh dengan
kurun waktu yang relativ singkat di batoanpun yang ketika itu di asuh oleh
al-Alamah KH. Jamaluddin juga di tempuh dalam tempo yang singkat yakni selama 9 bulan, hanya saja di sini beliau dapat menghatamkan kitab
Ikhya' Ulumudin sebanyak 4 juz tanpa harus absen sama sekali kecuali 3 hari
saat ibunda beliau wafat dan di Batoan inilah beliau mengakhiri perjalanannya
untuk kembali pulang ke kampung halaman tercinta.
Sepulang
dari Batoan tanpa di duga dan di yakini oleh banyak masyarakat akan keberanian
dan kemampuan beliau dalam membantu ayahnya untuk mengembangkan Pesantren
melalui kitb-kitab yang beliau ajarkan, ba'du riwayat : beliau mengajar kitab
Ihya' Ulumudin sebagai badal dari ayahnya, Tafsir Munir, I'anatut Tholibin, dan
lain-lain. Kekurang percayaan mereka saat itu akan kealiman beliau sepulang
dari Batoan oleh karena itu pada mulanya semasa beliau masih belajar
bersama-sama santri ayahnya. Tanda-tanda kealimannya masih belum begitu tampak,
akan tetapi bagaimanapun juga lambat laun masyarkat menyadari dan mengakui
kalau beliau memang benar-benar alim dan patut di jadikan panutan.
Dalam
hal berumah tangga pada tahun 1981 tepatnya umur 27 tahun beliau menikah dengan
Asmaul Husna yang berasal dari desa Klopo Sepuluh sampai pada tahun 1984 beliau
menikah yang kedua kalinya dengan seorang gadis dari negeri Singo Padu Tulangan
yang bernama Uswatun Hasanah. Hingga saat ini dengan di karuniai 2 putra dan 3
putri. Semoga beliau sekeluarga selalu mendapatkan inayah dan kekuatan dari Allh
SWT. Sehingga dapat mendidik dan membimbing kita menuju Ridlo Ilahi.
6. AGUS H. SHOBAHUS SURUR ASIF
Beliau adalah putra kedua dari
KH. Asif A.A, lahir pada tanggal 9 juli 1973. Masa-msa kecilnya telah di
habiskan di lingkungan pondok ini yang masih kental keilmuan agamanya sampai
sekarang. Mulai kecil ayahnya sudah memberikan keagamaan kepadanya, ayahnya tak
ingin calon penerus perjuangannya dalam mengemban tugas menyebarkan agama Allah
gagal di karenakan bodoh akan ilmu, oleh sebab itu mulai dari Safinah dan
Bidayah ayahnya lah yang langsung mengajarinya, Tapi untuk ilmu Nahwu beliau
mengaji pada KH. Hayyun dalam memahami kitab Jurumiyah.
Dalam
pendidikan formalnya, beliau telah menamatkan SMP Avisena pada tahun 1986 dan
pada tahun ini pula dengan niat bulat dan tekad yang kuat dalam memperluas ilmu
agamanya, beliau rela meninggalkan desa tercintanya untuk pergi mondok ke Ploso
yang diasuh oleh KH. Zainuddin Usman. Beliau tak peduli apa yang di katakan
orang barat bahwa remaja adalah masa untuk senang-senang dan hura-hura, tapi
menurut beliau kebahagiaan itu hanya di akherat nanti sedangkan jalan utama
menuju surga adalah agama dan ilmu yang manfaat.
Waktu
terus bergulir tak peduli musim dan huru-hara selama 10 tahun lamanya Agus
Shobahus Surur menimba ilmu agama dengan harapan mendapatkan ilmu yang
bermanfaat agar dapat meneruskan perjuangan para Ulama' terdahulu. Ini terbukti
dengan pengajian Fathul Qorib yang diadakannya sekembali dari pondok.
Pada
tahun 2003 beliau pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian setelah
itu beliau menikah dengan putrinya Kyai Ngampel yang bernama Hj. Saniah, yang
mana dulunya pernah nyantri di PPRMM sini dan sekarang dari pernikahan ini
telah lahir 2 putri dan seorang putra.
Yang
terakhir semoga beliau sekeluarga tetap dalam naungan Rahmat Allah dan tetap
sehat. Amin. 








